Cortex
Klik untuk lihat detail buku

Apakah kecerdasan buatan seharusnya meniru kecerdasan natural dengan mempelajari psikologi atau neurologi? Apakah biologi manusia terhadap AI (kecerdasan buatan) itu sama tidak relevannya dengan biologi burung pada teknik penerbangan? Kita berada di sebuah revolusi digital, di mana digitalisasi membaur dalam kehidupan secara menyeluruh. Algoritma dari media sosial yang kita gunakan mendikte selera, tendensi dan bahkan cara berfikir kita. Sementara kita masih berfikir bahwa apapun yang ada di kepala kita itu merupakan hasil murni dari proses berfikir. Banyak sekali diskusi yang terjadi, membahas apakah manusia akan punah dan diganti oleh robot, atau manusia akan kehilangan fungsinya karena semua profesi akan diambil alih oleh robot. Faktanya, robot hanyalah mesin. Bahaya laten yang sebenarnya terletak pada sistem yang membuat robot bergerak, melakukan sesuatu dan bahkan berfikir: perangkat lunak yang berkembang menjadi kecerdasan buatan. Meskipun banyak pendapat yang memberikan peringatan dan ketakutan pada perkembangan yang terjadi, ada beberapa hipotesa yang cenderung membingkai AI sebagai sebuah cara untuk membuat sintese manusia dan mesin yang akan membesut kita menjadi manusia super. Dalam proses pengembangan desain, telah dibuktikan bahwa AI bukan hanya berfungsi sebagai alat pembantu desainer, melainkan juga bisa menjadi desainer itu sendiri. Pada mulanya hal tersebut terasa mengerikan, namun, jika berfikir pada sebuah artikel dalam fastco design mengenai pekerjaan desainer di masa depan yang belum ada samasekali hari ini, yang diusulkan oleh beberapa pelaku bisnis desain papan atas, AI juga bisa berarti sebuah harapan bagi dunia yang lebih baik. Tema ini menggambarkan AI sebagai neokorteks eksternal bagi umat manusia, yang berlaku sebagai alat untuk mengeksplorasi bentuk, material dan medium dalam riset desain, di mana hasilnya yang seringkali tak terduga membuka horison baru mengenai visi, bentuk dan material.

2
SHARE