Product & Craft
Klik untuk lihat detail buku

Kita berada dalam sebuah revolusi digital, di mana digitalisasi membaur dalam kehidupan secara menyeluruh. Logaritma dari media sosial yang kita gunakan men- dikte selera, tendensi, bahkan cara ber- pikir kita. Sementara, kita masih percaya bahwa apa pun yang ada dalam kepala kita merupakan hasil murni dari proses berpikir. Banyak sekali diskusi yang terjadi, membahas apakah manusia akan punah dan digantikan oleh robot, atau manusia akan kehilangan fungsinya karena semua profesi akan diambil alih oleh robot. Fak- tanya, robot hanyalah mesin. Bahaya laten yang sebenarnya terletak pada sistem yang membuat robot bergerak, melakukan sesuatu, dan bahkan berpikir: perangkat lunak yang berkembang menjadi kecer- dasan buatan (Artificial Intelligence; AI). Meskipun banyak pendapat yang menyam- paikan peringatan dan ketakutan pada perkembangan yang terjadi, ada beberapa hipotesis yang cenderung membingkai AI sebagai sebuah cara untuk membuat sintesis manusia dan mesin, yang akan membesut kita menjadi manusia super.

Dalam proses pengembangan desain, telah dibuktikan bahwa AI bukan hanya berfungsi sebagai alat pembantu desainer, melainkan juga bisa menjadi desainer itu sendiri. Pada mulanya hal tersebut terasa mengerikan. Akan tetapi, jika bertumpu pada sebuah artikel dalam situs FastCo Design mengenai pekerjaan desainer di masa depan yang belum ada sama sekali hari ini, yang diusulkan oleh beberapa pelaku bisnis desain papan atas, AI juga bisa berarti sebuah harapan bagi dunia yang lebih baik.Tema ini menggambarkan AI sebagai neokorteks eksternal bagi umat manusia, yang berlaku sebagai alat untuk mengeksplorasi bentuk, material, dan medium dalam riset desain. Hasilnya ser- ingkali tak terduga, membuka horizon baru mengenai visi, bentuk, dan material.

1
SHARE